Ilustrasi: produk serum perawatan kulit (Foto: Mathilde Langevin / Unsplash)
Rekomendasi perawatan kulit yang viral di media sosial tidak selalu membawa hasil baik. Sebuah studi yang dipresentasikan dalam kongres European Academy of Dermatology and Venereology (EADV) 2026 menemukan banyak masalah kulit muncul setelah orang mengikuti tren kecantikan dari TikTok.
Penelitian observasional ini melibatkan 94 pasien dengan keluhan kulit selama 12 bulan. Sebagian besar dari mereka mengalami kondisi kulit yang memburuk setelah memakai produk yang dipromosikan di media sosial. Menariknya, sekitar 35 persen pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat masalah kulit sama sekali.
Gangguan yang paling banyak ditemukan adalah dermatitis kontak iritan, yaitu peradangan kulit non-alergi, yang dialami 42 persen pasien. Disusul munculnya atau memburuknya jerawat pada 30 persen pasien. Ada pula kasus rosacea yang kambuh, flek bekas peradangan, hingga luka bakar kimia.
Bahan aktif yang paling sering menjadi biang masalah antara lain eksfolian kimia AHA dan BHA, retinoid yang dijual bebas, serum vitamin C konsentrasi tinggi, serta niacinamide. Masalahnya kian besar karena 63 persen pasien memakai lebih dari tiga bahan aktif sekaligus dalam rutinitas perawatannya, dan hampir separuh mengaku rutinitas itu terinspirasi dari media sosial.
Peneliti mengakui skala studinya masih kecil, tetapi hasilnya menunjukkan pentingnya bersikap kritis terhadap tren kecantikan. Mengikuti rekomendasi di media sosial boleh saja, asalkan dilakukan dengan bijak. Jika ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kulit sebelum mencoba produk atau kombinasi bahan aktif baru.
Sumber: CNN Indonesia
Komentar
Posting Komentar