Ilustrasi: ruang server data center (Foto: Taylor Vick / Unsplash)
Lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) membuat pusat data atau data center bermunculan di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun di balik peluang investasinya, fasilitas ini menyimpan persoalan serius: konsumsi air dan listrik yang sangat besar, terutama untuk sistem pendingin yang mengandalkan penguapan.
Isu ini mencuat setelah proyek data center AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di Jati Luhut, Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara. Proyek tersebut tersandung urusan perizinan sekaligus mendapat sorotan soal dampak lingkungannya, mengingat lokasinya berdekatan dengan Waduk Jatiluhur yang menjadi sumber air baku dan irigasi warga.
Pakar dari ITB, Mariana Marselina, menilai pemerintah perlu mengkaji kebutuhan air pendingin, energi, limbah, hingga panas buangan sebelum memberi izin. Ia mengingatkan agar alokasi air untuk masyarakat tidak tergerus, apalagi saat musim kemarau. Sebagai gambaran, sebuah studi tahun 2025 memperkirakan satu data center besar dapat menyedot hingga 18,9 juta liter air per hari, setara kebutuhan puluhan ribu orang. Angka itu dibantah CEO AWS Matt Garman yang menyebut rata-rata pemakaian jauh lebih kecil.
Dari sisi pemerintah, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut lahan, listrik, dan air sebagai tiga syarat utama pengembangan data center. Karena kawasan digital di Bintan sudah penuh, Karawang kini disiapkan sebagai lokasi baru dengan tambahan pasokan listrik sekitar 500 MW.
WALHI dan BRIN sama-sama meminta perhitungan neraca air yang matang. Para ahli juga mendorong penggunaan teknologi pendingin tertutup dan air daur ulang agar industri digital bisa tumbuh tanpa mengorbankan kebutuhan warga.
Sumber: CNN Indonesia
Komentar
Posting Komentar