Ilustrasi: membaca berita di ponsel (Foto: Rodion Kutsaiev / Unsplash)
Kabar buruk kini datang dari segala arah, mulai dari televisi, media sosial, notifikasi ponsel, hingga grup percakapan. Tanpa disadari, paparan terus-menerus ini bisa membuat mental kewalahan.
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Putra Wiramuda, menjelaskan otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk menghadapi banyak ancaman dalam waktu bersamaan. Kondisi ini diperparah oleh bias negativitas, yakni kecenderungan otak untuk lebih mudah mengingat dan terpengaruh oleh informasi negatif.
Menurut Putra, ada beberapa tanda seseorang mulai kelelahan akibat berita. Pertama, mudah marah, sedih, atau cemas, serta merasa letih padahal tidak banyak beraktivitas. Kedua, muncul sikap pasrah dan menganggap kabar buruk sebagai hal biasa, yang menurutnya justru berbahaya karena bisa mematikan semangat. Ketiga, sulit berhenti menggulir layar karena takut ketinggalan informasi. Stres berkepanjangan bahkan dapat memicu keluhan fisik seperti naiknya asam lambung.
Sebuah studi di jurnal Health Communication pada 2024 juga menemukan bahwa orang dengan pola konsumsi berita bermasalah cenderung menilai kondisi kesehatannya lebih buruk. Paparan kisah penderitaan orang lain secara terus-menerus juga berisiko memicu stres traumatis sekunder.
Putra menyarankan untuk mengenali batas diri dalam menerima kabar buruk, bukan menghindari berita sama sekali. Ketika batas itu tercapai, berhentilah mencari informasi tambahan. Tetap peduli pada isu sosial itu baik, tetapi fokuskan energi pada tindakan nyata yang bisa dilakukan, dan rawat diri sendiri terlebih dahulu.
Sumber: CNN Indonesia
Komentar
Posting Komentar