Ilustrasi: mentega (Foto: Sorin Gheorghita / Unsplash)
Media sosial belakangan diramaikan tren makan mentega secara langsung. Ada yang mengoleskannya sangat tebal di roti, menyantapnya begitu saja, hingga menambahkan balok mentega utuh ke dalam masakan. Meski terlihat menggugah selera, ahli gizi mengingatkan agar masyarakat tidak asal ikut-ikutan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Sri Anna Marliyati, menjelaskan lemak merupakan zat gizi yang sangat padat energi. Setiap satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 kilokalori, sehingga mengonsumsi mentega dalam jumlah besar bisa membuat asupan energi melonjak dengan cepat. Mentega juga didominasi lemak jenuh.
Dalam jangka pendek, makanan tinggi lemak dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga memicu rasa begah, mual, atau gangguan pencernaan. Pada orang dengan batu empedu, konsumsi lemak berlebih bisa memicu nyeri perut karena kandung empedu dipaksa berkontraksi.
Jika kebiasaan ini dilakukan berulang, kadar lemak darah seperti trigliserida berpotensi meningkat dan dalam jangka panjang menaikkan risiko penyakit jantung serta gangguan metabolik. Kelompok yang perlu ekstra hati-hati antara lain penderita kolesterol tinggi, penyakit jantung, obesitas, diabetes, dan perlemakan hati.
Sri menegaskan mentega tidak harus dihindari sepenuhnya karena mengandung vitamin A dan B12. Namun, nutrisi tersebut juga bisa diperoleh dari susu, telur, ikan, dan sayuran. Asupan lemak harian dianjurkan sekitar 20 hingga 30 persen dari total energi, dengan memprioritaskan lemak tak jenuh dan menerapkan pola makan gizi seimbang.
Sumber: CNN Indonesia
Komentar
Posting Komentar