Ilustrasi: kesehatan mental (Foto: Marcel Strauß / Unsplash)
Setiap 10 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Peringatan yang pertama kali digagas Federasi Kesehatan Mental Dunia (WFMH) pada 1992 ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong langkah nyata dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
Tahun ini, tema yang diusung adalah Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change, atau jika diterjemahkan berarti pengalaman nyata yang didengarkan untuk menghasilkan perubahan nyata. Tema ini menekankan bahwa orang yang pernah atau sedang mengalami masalah kesehatan mental memiliki pengetahuan berharga untuk memperbaiki layanan.
Selama ini, para penyintas kerap diminta membagikan kisahnya, tetapi jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka. Melalui peringatan tahun ini, mereka didorong untuk mendapat peran yang lebih bermakna, mulai dari penyusunan kebijakan, perancangan layanan, dukungan sebaya, hingga gerakan melawan stigma.
Isu lain yang disorot adalah peralihan dari perawatan jangka panjang di institusi psikiatri menuju layanan berbasis komunitas yang berpusat pada individu. Perawatan institusional dalam waktu lama dinilai berisiko menimbulkan isolasi sosial dan kerap dikaitkan dengan mutu layanan yang rendah, praktik pemaksaan, bahkan pelanggaran hak asasi manusia.
Meski demikian, transisi ke layanan komunitas tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Dibutuhkan perencanaan matang, perubahan skema pendanaan, serta penguatan dukungan di tingkat masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dijadwalkan meluncurkan panduan praktis untuk membantu negara-negara menjalankan proses tersebut.
Sumber: CNN Indonesia
Komentar
Posting Komentar